Jumat, 09 November 2012

Makna Hari Pahlawan Dari Masa Kemasa

memaknai hari pahlawan
Makna Hari Pahlawan Dari Masa Kemasa - Makna Hari Pahlawan Masa Kini, Setiap tanggal 10 November setiap tahun, bangsa ini merayakan hari Pahlawan. Hari yang secara khusus ditetapkan untuk menghormati dan menghargai jasa setiap orang yang telah mengorbankan waktu, pikiran, harta bahkan nyawanya sekalipun untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Tanggal 10 November sengaja dipilih untuk mengenang jasa para pahlawan yang bertemput dengan penuh semangat melawan tentara Inggris di Surabaya. Walaupun bersenjatakan bambu runcing, namun tak sedikitpun menyurutkan semangat para pahlawan kita untuk terus berjuang untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan pada saat itu. Pada saat itu ada seorang tokoh yang terkenal yakni Bung Tomo, beliau dengan caranya sendiri mampu membakar dan menghidupkan api perjuangan dalam diri pemuda melaui tulisan maupun siaran radionya. Inilah sebuah bentuk perjuangan yang tulus demi mempertahankan kemerdekaan. Pengorbanan yang tiada tara dari para pejuang meski nyawa menjadi taruhannya. Demikian luhur niat para pejuang pada saat itu tanpa mengharapkan balas budi atau pujian dari siapapun. Suatu ketulusan yang sudah sangat sulit ditemukan saat ini. Merekalah pahlawan sejati yang sesungguhnya.
Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan itu, namun terlihat jelas bahwa mutu peringatan itu, dari tahun ke tahun semakin mengalami penurunan. Kita sudah tak mampu lagi memaknai esensi dari hari bersejarah ini. Perayaan yang dilakukan sekarang, cenderung bersifat seremonial saja. Apakah ini bentuk nyata dari semangat nasionalisme yang semakin terdegradasi akibat diterjang golombang saman yang semakin menggelora? tentunya perlu kita refleksikan lebih jauh lagi. Apa makna hari pahlawan bagi kita sekarang ? Makna utama yang perlu kita teladani dan relevansinya tak lekang oleh waktu adalah rasa "kebersamaan" sebagai satu bangsa, meski ada perbedaan keyakinan, suku, pandangan politik, strata sosial dan sebagainya. Namun berkat satu keinginan, perbedaan tersebut bukan menjadi penghambat kebersamaan para pejuang dulu untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Hari-hari ini, sebagai pemuda, kita dituntut untuk menjadi pahlawan untuk bangsa dan tanah air kita. Menjadi pahlawan hari ini, tidak lah seperti 10 November puluhan tahun yang lalu, dimana mengorbankan nyawa untuk tanah air tercinta ini. Menjadi pahlawan di sini, lebih dimaksudkan sebagai pribadi yang jujur, pemberani dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan orang banyak.
Hari ini, bangsa ini masi tetap membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang adil, Indonesia yang aman, Indonesia yang sejahtera, Indonesia yang demokratis, Indonesia yang bersih dan bebas korupsi. Pada dasarnya pertempuran di Surabaya yang merupakan perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah sebagai sebuah respon atas suatu keadaan. Karena ini semua merupakan suatu bentuk tanggungjawab moral dari pemuda bangsa untuk mengabdikan diri kepada kepentingan dan kesejahteraan orang banyak.

Bagaimana dengan sekarang ? apakah saat ini bangsa kita telah bebas dari penjajahan ? Rakyat boleh jadi sudah pintar, akan tetapi tatanan masyarakat seperti yang telah diamanatkan dalam UUD 1945 belum terwujud. Masyarakat adil dan makmur hanyalah mimpi di sinag bolong, karena kita hanya masi tidur dan memimpikannya. Hingga saat ini sebagai kaum muda, kita belum mampu untuk mengawal jalannya Negara dan Bangsa yang berdaulat ini.

Hingga saat ini, bangsa kita masi dijajah. Bentuk penjajahan di era sekarang yang perlu kita lawan adalah pemiskinan dan pembodohan terhadap rakyat itu sendiri. Negara ini didirikan untuk membebaskan bangsanya dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Bagaimana mungkin kita dapat membebaskan diri dari belenggu kemiskinan dan kebodohan itu > tentu kita harus bersatu, sehati dan sejiwa untuk memperjuangkan cita-cita luhur ini. Kata orang bijak, tak ada sebuah perjuangan tanpa persatuan. Kita harus bersatu, memperhebat daya upaya kita, memperkokoh tembok persatuan kita untuk memperjuangkannya. Landasan persatuan kita sesungguhnya adalah karena kitalah pemilik Negara ini. Kita semualah pemuda yang kelak akan menjalankan keberlangsungan Negara ini. Karena kita yang memilikinya maka sudah seharusnya kita sendirilah yang harus membangunnya. Negara ini diwariskan kepada kita bukan untuk kita nikmati tetapi untuk terus diperjuangkan agar bebas dari pemiskinan dan pembodohan itu sendiri.

Rasa memiliki bangsa inilah yang mempersatukan kita semua. Rasa senasib-sepenanggungan inilah yang telagh berhasil mempersatukan pemuda-pemuda seumuran kita untuk maju bersama dalam satu barisan melawan penjajahan pada saat itu. Semangat nasionalisme yang adalah semangat cinta tanah air, semangat bahwa bangsa kita bukanlah bangsa murahan, yang bisa dengan mudah disakiti dan diperalat oleh bangsa lain. Semangat ini bukanlah ada di angkasa atau di luar kepala kita. Semangat itu ada dan bersemayam dalam sanubari kita, maka semangat itu harus kita bangunkan lagi secara bersama-sama. Jika persatuan ini hanyalah cita-cita belaka, benarkah bahwa generasi kita sekarang hanyalah generasi penikmat sejarah?. Nasib generasi kita sekarang dipertaruhkan dan diuji kekuatannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar